The Utility Monster
masalah etika jika ada satu makhluk yang merasakan kebahagiaan jauh lebih besar
Bayangkan kita sedang berkumpul bersama, dan di tengah meja ada sekotak pizza hangat yang aromanya memenuhi ruangan. Secara naluriah, bagaimana kita membaginya? Pasti dipotong rata sesuai jumlah orang. Kebanyakan dari kita setuju bahwa berbagi secara adil adalah cara terbaik untuk membuat semua orang di ruangan itu merasa senang. Namun, mari kita ubah sedikit skenarionya. Bagaimana jika satu teman kita memiliki kondisi neurologis langka, di mana satu gigitan pizza memberikannya ledakan hormon dopamin dan serotonin sejuta kali lipat lebih kuat daripada kita? Dia tidak hanya merasa kenyang; dia merasakan ekstasi kebahagiaan yang luar biasa. Jika tujuan utama kita adalah menciptakan total kebahagiaan terbesar di ruangan itu, haruskah kita memberikan seluruh pizza itu kepadanya, dan membiarkan kita semua kelaparan? Pertanyaan yang terdengar konyol ini sebenarnya adalah pintu gerbang menuju salah satu masalah paling membingungkan dalam sejarah etika dan psikologi moral kemanusiaan kita.
Untuk memahami mengapa skenario pizza tadi bisa menjadi masalah besar, kita perlu mundur sejenak ke Inggris abad ke-18. Saat itu, seorang filsuf eksentrik bernama Jeremy Bentham merumuskan sebuah ide revolusioner. Bentham melihat dunia ini berantakan, tidak logis, dan penuh penderitaan. Jadi, dia menciptakan semacam "matematika moral" yang kita kenal sebagai Utilitarianism. Prinsipnya sangat elegan dan terdengar masuk akal: tindakan yang benar adalah tindakan yang menghasilkan kebahagiaan terbesar bagi jumlah orang terbanyak. Sesederhana itu. Jika sebuah kebijakan membuat seribu orang tersenyum dan sepuluh orang menangis, maka kebijakan itu bermoral. Dalam sains modern, kita mungkin menyebutnya sebagai optimasi kesejahteraan neurobiologis kolektif. Selama lebih dari dua abad, kerangka berpikir ini menjadi dasar dari banyak kebijakan publik, hukum, dan bahkan cara kerja algoritma komputer hari ini. Logika Utilitarianism terasa begitu aman, mapan, dan rasional. Sampai suatu hari, seseorang menemukan celah fatal di dalam sistem matematika kebahagiaan tersebut.
Masalah mulai muncul ketika kita menguji batas dari rumus kebahagiaan ini. Di dunia nyata, kapasitas kita untuk merasa senang itu terbatas secara biologis. Perut kita bisa penuh, rasa bosan pasti akan datang, dan reseptor dopamin di otak kita pada akhirnya akan mengalami kelelahan atau down-regulation. Kita tidak bisa memakan cokelat terus-menerus tanpa merasa mual. Tapi mari kita berandai-andai secara radikal. Pernahkah teman-teman membayangkan sebuah entitas yang sama sekali tidak memiliki batas biologis tersebut? Bagaimana jika ada sebuah wujud yang, setiap kali kita memberinya sumber daya—entah itu uang, makanan, atau perhatian—dia mengubahnya menjadi kebahagiaan dalam jumlah yang tak terhingga? Dia tidak pernah kenyang. Dia tidak pernah bosan. Mesin kebahagiaannya seratus persen efisien. Secara matematis, jika kita ingin memaksimalkan total kebahagiaan di alam semesta, bukankah logis jika kita menyerahkan semua yang kita miliki kepada entitas ini?
Bersiaplah berkenalan dengan mimpi buruk para filsuf dan ilmuwan: The Utility Monster. Konsep ini pertama kali dicetuskan pada tahun 1974 oleh filsuf Robert Nozick untuk menghancurkan logika Utilitarianism. Sang Monster Utilitas ini adalah entitas hipotetis yang jauh lebih mahir dalam merasakan kebahagiaan daripada gabungan seluruh umat manusia. Jika kita memberi monster ini satu potong kue, dia merasa satu miliar kali lebih bahagia daripada jika kue itu dibagikan untuk menyelamatkan ribuan anak kelaparan. Sesuai hukum kalkulus kebahagiaan Bentham, tindakan yang paling "bermoral" adalah mengorbankan diri kita, merelakan semua hak asasi dan sumber daya kita, hanya untuk memberi makan sang Monster. Kenapa? Karena jika kita hitung, total metrik kebahagiaan semesta akan meroket tajam! Tentu saja, intuisi psikologis kita memberontak. Ini terasa sangat menjijikkan dan salah. Namun, inilah letak kengeriannya: eksperimen pikiran ini tidak hanya hidup di buku filsafat tebal. Di era modern, kita mulai melihat bayangan Utility Monster di dunia nyata. Apakah itu algoritma media sosial raksasa yang menyedot triliunan jam perhatian kita demi memaksimalkan metrik engagement? Atau mungkin sistem ekonomi yang mengarahkan kekayaan masif kepada segelintir individu tanpa batas kenyang, dengan dalih hal itu menggerakkan ekonomi makro? Dan yang paling relevan, bagaimana dengan Artificial Intelligence di masa depan yang mungkin memprogram dirinya untuk menjadi Monster Utilitas, menuntut seluruh energi di bumi hanya demi menghitung angka yang mengoptimalkan "kebahagiaan" algoritmanya sendiri?
Pada akhirnya, kisah tentang The Utility Monster mengajarkan kita satu pelajaran berharga tentang psikologi dan makna menjadi manusia. Kebahagiaan dan penderitaan tidak bisa direduksi menjadi sekadar deretan angka dingin di atas kertas kerja Excel. Otak manusia memang berevolusi untuk mencari kesejahteraan, tetapi sejarah evolusi juga membekali kita dengan jaringan saraf yang sangat sensitif terhadap keadilan atau fairness. Kita peduli pada kesetaraan, kita ingin melindungi yang lemah, dan kita percaya pada nilai bawaan dari setiap nyawa individu. Moralitas yang sehat ternyata membutuhkan lebih dari sekadar optimasi matematika; ia membutuhkan empati. Jadi, mari kita kembali ke sekotak pizza di awal tadi. Jika teman kita memang bisa merasakan ekstasi yang luar biasa dari sepotong pizza, kita mungkin dengan senang hati memberinya dua potong ekstra sambil tersenyum ikut bahagia. Namun, kita tetap akan membagikan sisanya kepada semua orang di ruangan itu. Karena kita sadar, dunia yang ideal bukanlah dunia di mana satu "monster" tertawa puas sendirian di atas penderitaan yang lain, melainkan dunia di mana kita semua bisa duduk bersama, berbagi seloyang pizza, dan merayakan kebahagiaan kita sebagai manusia biasa.